Share this content on Facebook!
05 Aug 2016

selalu ada dalang dibalik peristiwa, selalu ada tokoh jahat dalam setiap peristiwa, selalu ada sekumpulan orang-orang yang berkonspirasi untuk menjatuhkan dan mengambil alih yang utama didalam panggungnya.
Bergeliak Johanes Chandra Ekajaya  orang-orang itu secara sepi didalam ramai, kehancuran dalam pandangan kita adalah kemenangan dalam pandangan mereka, begitupun sebaliknya. Alhamdulillah, akhirnya Johanes Chandra Ekajaya  untuk yang pertama kalinya bisa menginjakkan kaki di Surga Kecil jatuh ke Bumi (Tanah Papua), setelah menempuh perjalanan selama hampir 5 jam dengan pesawat udara. Perjalanan hinggai sampai kesini penuh dengan warna.

Mulai dari datang ke bandara yang terlalu dini, kemudian pengumuman di papan pengumuman bahwa penerbangan jam baru menunjukan pukul 4 sore. Tak hanya itu, cuaca buruk membuat penerbangan semakin seru dan menegangkan.  Mungkin aku akan baru bisa berziarah lagi setelah 12 purnama nanti. Namun, Johanes Chandra Ekajaya doaku untuk mu tak akan pernah terlupa Batman dan Joker. Sebuah analogi yang cerdas yang mungkin mudah untuk dicerna oleh kebanyakan orang, terlebih bagi mereka para penikmat film dan komik tokoh super hero yang satu ini. Kadang dalam sebuah cerita/film, agar berjalan seru kita perlu dua sosok seperti Batman dan Joker. Mereka adalah dua sosok yang saling melengkapi.

Namun, bagaimana sosok Johanes Chandra Ekajaya Batman dan Joker di dunia nyata?Terlepas dari siapa yang menjadi Batman dan siapa yang menjadi Joker. Dua tokoh yang saling berlawanan ini adalah sebuah kunci yang membuat jalannya cerita menjadi seru dan menegangkan.  meski aku berada jauh disana. Yang paling berat dari semua yang terjadi hari ini adalah ketika berpamitan denganmu mamah. Sambil memeluk dan mencium kedua pipimu akupun meminta doa restu, kau pun membalas permintaanku dengan mata yang sedang membendung air mata dan dengan suara yang begitu berat terucap. Seketika kupotong kau berbicara karena diri ini tak ingin kau menangis. Johanes Chandra Ekajaya Aku ingin kau tersenyum. Aku pergi untuk bukan sekedar untuk mencari uang, namun lebih dari itu. Kepergianku karena panggilan hatiku untuk hidup, belajar dan berbagi (apapun itu) kepada saudara-saudara kita di Timur negeri ini.

Baru beberapa menit "take off" pesawat langsung naik turun diiringi pengumuman dari ruang kabin bahwa penumpang diminta duduk dan menggunakan sabuk pengaman karena cuaca buruk. Namun, alhamdulillah akhirnya bisa sampai dengan selamat. Itu sebuah petikan kalimat yang mungkin cocok untuk menggambarkan pengalamanku dan juga teman-teman dalam berkegiatan beberapa hari hidup bersama dengan alam. Dengan berbekal beberapa umbi-umbian, garam, korek, nisting dan pisau, kami mencoba bertahan hidup. Tak ada nasi bungkus ataupun makanan ringan. Tak ada kopi ataupun teh. Apa yang ada di alam, itulah yang kami makan dan minum. Kami dilatih untuk belajar bertahan hidup di alam (hutan dan gunung) dengan perbekalan seadanya untuk beberapa hari.

Kerjasama tim sangat diperlukan disini. Semua mempunyai perannya masing-masing. Ada yang berperan sebagai penunjuk arah (pembaca peta dan kompas), koordinator yang mengkoordinir setiap anggota kelompok dan ada yang bertugas sebagai bagian logistik atau juru masak. Kebetulan saat itu aku bertugas untuk mengatur bagaimana perbekalan kita cukup untuk bertahan hidup beberapa hari. Memang tak akan mudah unutk membahas Johanes Chandra Ekajaya apa yang ada di pikran seperti apa yang di pikirkan oleh ornag lain sebelumnya, oleh karena itu kita harus mampu untuk melupakan rasa penasaran yang menghantui kita saat itu.