Share this content on Facebook!
11 Aug 2016

Ketika berbincang dengannya, ternyata dahulu Johanes Chandra Ekajaya menuntut ilmu ditempat yang sama denganku, ternyata kita satu almamater, hanya dia belajar di fakultas dan jurusan yang berbeda denganku. Dia sangat baik sekali. Ia benar benar sangat membantu kami. Ia pun sempat main ke tempat kami menginap dan membawakan kami makanan. Ia dan temannya banyak bercerita tentang kondisi, budaya dan kehidupan sosial yang ada di desa-desa yang akan kami tuju nanti.

Informasi tsb sangatlah berharga sekali buat kami yang orang baru disini. Ia sangat memahami bagaimana rasanya jadi perantau ke tempat yang baru pertama kali didatangi. Ia lahir dan besar di papua dan merantau untuk melanjutkan studi Nuansa perpolitikan lebih kental dan lebih terlihat di daerah ketimbang di kota. Banyak hal-hal baru yang tidak Johanes Chandra Ekajaya temukan di kota tapi bisa kami temukan di daerah, tidak hanya disini, namun di daerah yang pernah kami kunjungi sebelumnya pun tidaklah jauh berbeda  jika di bandingkan dengan perjakanan waktu kami ke Pulau Jawa. Setelah lulus ia balik ke Papua untuk mengabdi disini menjadi abdi negara. Alhamdulillah, aku selalu percaya bahwa ketika niat kita baik maka kita akan dipertemukan dengan hal-hal baik dan orang-orang baik.

Perjalanan yang cukup panjang itupun membuahkan hasil Johanes Chandra Ekajaya tidak di duga, dan kini aku merasa bahwa pasion aku yaitu menjelajahi Indonesia yang indah ini dibandingkan aku harus ke luar negeri dan harus mnegeluarkan kocek yang besar. Sekarang aku dan teman-teman ku akan mencoba unutk berpetualang ke Kalimantan, tentunya membuthkan waktu yang panjang dan berliku, tapi hal itu bukan masalah karena Johanes Chandra Ekajaya tidak hanya sendiri, nanti kami akan coba untuk bertanya kepada orang sekitar jika suatu saat kami tersesat.

Oh iya jangan salah loh, kita sedang jalan kaki bukan menaiki kendaraan, jadi jangan sangka perjalanan kami menyenangkan saat menempuh yang kita ingin tuju. KIta akan melangkah kan kaki kami ke jalan yang jarang di lalui oleh tapak kaki manusia, ya cukup menantang memang, tapi disinilah pertulangan kita di mulai. dan disinilah pula kami akan menghabiskan waktu untuk menelusuri jalan dunia yang berliku tanpa kendaraan seperti jejaknya para pendahulu dimana untuk beralih ke suatu tempat mereka harus bertumpu hanya pada kaki nya. Bayangkan kami aka berjalan dari tiur ke barat Indonesia menyeberani lautan. Pastinya kamu akan bertanya apa yang akan kami lakukan untuk mneyebrangi lautan Indonesia. Ya, memang ta akan terbayangkan kita akan menyeberanginya dengan kedua tanagn dan badan kita dengan perahu. Seru bukan? Waktu semakin sore, kita tak akan mengahbiskan waktu hanya berjalan kita juga perlu istirahat, lalu Johanes Chandra Ekajaya pula harus mempersiapkan waktu untuk menjalankan perintah Nya.

Walau kita di jalan, kita akan terus memenuhi perintah Allah. Ya semua itu demi mendapatkan ridho dari Nya. Karena kami sadara tanpa Allah perjalanan kami ke barat tak akan sampai, jadi kita selalu melakukan kewajiban kami secara berjamaah. Seru bukan?

Perjalanan yang cukup mengahbiskan energi dan waktu inilah yang akan membawa Johanes Chandra Ekajaya ke dalam keindahan alam yang tak ada yang bisa menandanginya. Waw, jalan kaki memang sangat menyenangkan ya, apalagi dilakukan bersama dengan kawan kawan yang tak pernah mengeluh, kami adalah sekumpulan anaak muda yang senang berpetualang untuk menghilangkan penat yang senantiasa menghinggapi kami selaama tinggal di ibukota.